Oleh AB Santoso
asyarakat luas kaget mencermati pemberitaan Majalah Forbes yang menempatkan Menko Kesra Aburizal Bakrie sebagai orang terkaya Indonesia sepanjang 2007. Betapa tidak? Bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, sempat memunculkan spekulasi bahwa bisnis keluarga Bakrie bakal terimbas serius. Bahkan ada yang berspekulasi bakal ambruk karena keuangan keluarga Bakrie diisukan bakal terkikis habis untuk menomboki ganti rugi bagi korban Lapindo.
Sebenarnya, kita tidak perlu terlalu ribut mempergunjingkan harta kekayaan keluarga Bakrie yang melonjak tajam sepanjang tahun ini. Yang lebih bermanfaat adalah memetik hikmah di balik kisah sukses Bakrie. Kalau kita amati, lonjakan kekayaan Bakrie terutama disokong oleh meroketnya harga saham PT Bumi Resources Tbk, perusahaan tambang batu bara milik keluarga Bakrie. Pada Kamis (27/12/2007), harga saham Bumi Resources yang berkode BUMI meroket nyaris 550 persen di harga Rp 6.050 per lembar saham. Padahal, pada akhir Desember 2006 harga saham BUMI masih bertengger di kisaran Rp 920 per saham.
Tentu saja lonjakan harga saham BUMI berjalan sama besar dengan meroketnya keuntungan penjualan batu bara oleh BUMI. Karena itu, kabar gembira di balik berita itu adalah kondisi keuangan keluarga Bakrie makin membaik dalam membantu korban lumpur Lapindo. Wajar bila Wapres Jusuf Kalla sempat menyentil anak buahnya itu dengan mengatakan, kalau Aburizal dinobatkan sebagai yang terkaya di Indonesia maka korban Lapindo justru akan senang mendengar kabar tersebut.
Pemerintah pun bisa memetik hikmah sukses keluarga Bakrie dari komoditas batu bara. Kita menyongsong tahun 2008 dalam situasi kecemasan karena ketidakpastian situasi global, khususnya lonjakan harga minyak mentah yang gila-gilaan sepanjang 2007. Dikhawatirkan, bila harga minyak mentah menembus 100 dolar AS per barel pada 2008 maka stagflasi (kemandegan pertumbuhan ekonomi) akan membayangi negeri ini. Apalagi kalau pemerintah membebankan lonjakan harga minyak mentah ini pada koreksi (menaikkan) harga BBM. Hantu stagflasi juga datang dari resesi gagal bayar sektor perumahan “kelas kambing” alias sub-prime mortgage di Amerika Serikat yang dikhawatirkan berimbas pada permintaan barang ekspor dari Indonesia. Imbas dari resesi itu sebenarnya sudah terasa sejak pertengahan 2007. Para pemburu untung di pasar modal mengalami kepanikan luar biasa. Aksi lepas saham membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok pada Agustus lalu, dengan indikasi rontoknya IHSG ke level 1.900 (padahal di bulan Juli sudah menggapai 2.400-an).
Memetakan Solusi
Namun, membayangkan stagflasi saja tentu makin menakutkan. Yang lebih penting adalah memetakan solusi menghadapi momok masalah tersebut. Solusi pertama, Bank Indonesia (BI) sangat diharapkan terus mengendalikan ancaman inflasi dengan terus memangkas suku bunga pada saat yang tepat. Ini agar ancaman melembeknya daya beli masyarakat bisa dikendalikan.
Memang, suku bunga patokan (BI rate) yang saat ini sudah menjadi 8 persen sudah cukup rendah dibanding tahun lalu, yang masih di atas 10 persen. Namun, melihat ancaman inflasi dan stagflasi akibat lonjakan harga minyak mentah peluang menurunkan kembali BI rate hendaknya tetap dibuka lebar.
Dampak resesi AS yang berpotensi mengancam penurunan devisa ekspor barang jadi RI bisa ditutup dengan cara mendongkrak ekspor komoditas tambang dan perkebunan. Harga minyak sawit dan batu bara sudah melonjak masing-masing 130 persen lebih dan 98 persen lebih sejak awal 2006 hingga Desember 2007. Ini adalah catatan lonjakan harga versi sejumlah perusahaan sekuritas. Departemen Pertanian memiliki catatan yang lebih fantastis. Deptan mencatat perusahaan perkebunan di Indonesia sepanjang 2007 mencetak untung luar biasa besar, bukan dari kenaikan volume penjualan, namun semata-mata karena lonjakan yang sangat tinggi harga minyak sawit (crude palm oil-CPO). Sekadar membandingkan, sepanjang 2006 penerimaan devisa dari ekspor sawit mencapai 4,8 miliar dolar AS. Padahal, volume ekspor sawit waktu itu hanya 12 juta ton dengan harga pasaran rata-rata 400-500 dolar AS per metrik ton.
Nah, dengan kondisi sekarang di mana lonjakan harga sawit sudah meroket di atas 850 dolar AS per metrik ton tentunya bisa dipastikan terjadi lonjakan tinggi keuntungan pebisnis perkebunan sawit. Apalagi pada akhir 2007, produksi sawit ditargetkan bakal menembus angka 16,5 juta ton. Demi menyelamatkan perekonomian nasional, pemerintah seharusnya makin memfasilitasi ekspor hasil perkebunan dan pertambangan.
Peluang tren kenaikan keuntungan industri perkebunan sawit akan semakin besar, karena pemakaian CPO makin berkembang ke industri makanan (minyak goreng), bio diesel, serta produk turunannya. Hingga kini konsumsi CPO untuk minyak goreng domestik mencapai 4,2-4,5 juta ton. Saking cerahnya prospek bisnis CPO kalangan perbankan saat ini berebutan untuk mendanai kredit perkebunan.
Sebenarnya kejayaan industri perkebunan juga tercermin dari performa transaksi sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), yang rata-rata cemerlang sepanjang 2007. Sebab lonjakan harga saham perkebunan sejak awal tahun hingga Desember 2007 sudah mencapai 50 persen. Artinya, bila di awal 2007 seorang investor membeli saham perkebunan, khususnya sawit, dengan nilai Rp 200 juta, misalnya, maka kini nilai sahamnya bisa jadi melambung menjadi Rp 300 juta dalam tempo hanya setahun. Sebuah keuntungan yang tidak pernah didapatkan dari suku bunga simpanan perbankan untuk jenis apa pun.
Satu contoh saja, saham emiten perkebunan PT Astra Agro Lestari (AALI) misalnya, melejit lebih dari 100 persen sepanjang 2007. Saham AALI yang Januari baru seharga Rp 12.800, pada Kamis (27/12) sudah membubung tinggi di harga Rp 27.350 per saham. Belum termasuk lonjakan fantastis saham perkebunan sawit seperti PT London Sumatera (LSIP), saham Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) atau saham Sampoerna Agro Lestari (SGRO) yang baru masuk bursa pertengahan tahun. Sektor pertambangan dan perkebunan sebagai andalan untuk menyelamatkan perekonomian RI tahun 2008 semakin ditegaskan oleh data Bloomberg yang menyebutkan, sepanjang 2007, investor saham yang paling berpesta keuntungan adalah mereka yang memegang saham pertambangan dengan tingkat keuntungan (return) tertinggi, yakni 240,91 persen. Ranking kedua dan ketiga ditempati saham agro-bisnis 115,39 persen, serta konstruksi dan properti 103,26 persen. Namun, idealnya pesta pora keuntungan di masa mendatang tak cuma dinikmati investor kakap berdasi di pasar modal, namun juga petani sawit, karet, kakao, kedelai, dan jagung mestinya ikut diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas pertanian di pasaran internasional.
Penulis adalah peneliti dari Lembaga Kajian “Indo Barometer”